home journal affiliates freebies credits
banner
Mohon Maaf Lahir Batin

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI:1429 H

hits

foreword
welcome to my kancil buaya blog. feel free to read around.

advert
your advert here

recent entries


tags
Horror
Romantic
Fairy Tale (narrative)
Poetry
Adult Content (porno)
Adventure
Fashion
Music
Haiku
Education
Lyrics
Lullabies
Unique


plugboard
Locations of visitors to this page

musicbox
Dream A Little Dream Of Me - Louis Armstrong and Ella Fitzgerald


back


Kamis, 10 Juli 2008
Membuat Mokal (Mobil Kapal) Bagian I @ 03.26

Di sebuah desa nan indah berdiam dua orang sahabat bernama Icil dan Aya. Mereka berteman sejak kecil. Icil seorang periang, jahil, tukang iseng sedangkan Aya, anak yang pendiam, lemah lembut namun menghanyutkan. Mereka adalah anak-anak paling cerdik di desa itu. Banyak temen-teman datang kepada mereka untuk meminta bantuan. Walaupun mereka baik tetapi mereka tidak menunjukkan sikap yang sombong malah bersedia membantu.

Pada suatu hari Si Icil selepas sekolah ia berjalan-jalan tertatih2 ke rumah Aya dengan celana pendek kedodoran kesukaannya. Sesampainya di halaman rumah aya... ia memanggil “Aya...Aya... main yuk.." tetapi tidak ada yang menyahuti. Dipanggilnya sekali lagi “Aya...Aya... main yuk.." Karena curiga tidak ada yang menyahuti, Icil pergi mendekati kamar Aya dan menengok jendela kamar Aya yang terbuka. Di dapatinya Aya sedang tertidur pulas dengan perut buncitnya yang terbuka. Lalu diambilnya ranting pohon dan mulai iseng menggangu Aya. Tapi sayang si Aya sudah terlalu terlelap. Gangguan seperti itu tidak berpengaruh. Tapi si Icil dengan isengnya mengambil batu krikil kecil dilemparkan ke perut Aya. Tuing…tuing. Namun Aya tetap tidak bergeming.

"Aduh, Aya kalau sudah tidur walau diseruduk kerbau juga tidak akan terbangun," gumamnya. Akhirnya Icil memutuskan hendak menggerakkan selimut Aya dari Jendela. Ia pun memanjat jendela kamar Aya yang agak tinggi itu sambil melirik kiri-kanan, "Mudah-mudahan Pak RT enggak melihat, bisa-bisa disangka maling di siang bolong nich..." Masih dalam posisi di atas jendela tangannya berusaha meraih selimut yang digunakan Aya. Ia berpikir jika ia bisa menggerakkan selimut itu maka tubuh Aya pun akan ikut bergerak juga dan Aya akan terbangun. Dengan susah payah akhirnya ia berhasil meraih selimut itu. Namun belum sempat ia menarik selimut itu, Aya sudah keburu membalikkan badan menjauhi jendela dan tanpa sengaja ikut menarik selimut itu, dan... Gubrak! Icil pun terjatuh dari jendela dan membawa serta pot bunga yang berada di jendela itu ke dalam kamar Aya.

"Aduh..." Icil pun merintih kesakitan. Tiba-tiba pintu kamar Aya terbuka. Tampak wajah ibu Aya terkejut melihat Icil berada di kamar Aya sedang merintih kesakitan. "Ada apa Icil? Kok kamu berada di dalam kamar Aya? Kapan kamu datang? Sepertinya Ibu tidak mendengar ada suara orang bertamu." Muka Icil pun memerah. Ia bingung harus mengatakan apa. Kemudian ia melihat ke arah Aya. Ternyata Aya masih belum bergeming, masih tetap tidur tersungkur di atas tempat tidurnya. Padahal sudah memakan korban dua, yaitu Icil yang kesakitan dan pot bunga Aya tentunya. "Mm... maaf Bu. Saya... Saya tadi memanggil-manggil Aya dari halaman tetapi tidak ada jawaban. Jadi saya mengintip dari balik jendela dan melihat Aya sedang tidur. Jadi..." Icil pun terdiam. Ia tidak melanjutkan perkataannya. Matanya melirik ke seluruh ruangan. "Bisa gawat nih kalau ketahuan ada ranting dan kerikil di dalam kamar Aya," serunya dalam hati. "Cari apa?" sahut ibu Aya yang kebingungan melihat mata Icil yang menyapu seluruh ruangan kamar Aya. Icil pun tersentak kaget. Matanya terbelalak karena kaget akibat tertangkap basah. Oops!. Sekujur tubuhnya pun basah keringat dingin. Terdengar suara ibu Aya memecahkan kesunyian. "Aya, bangun. Ada Icil di sini. Ayo bangun. Kasihan Icil sudah lama menunggu kamu disini. Ayo, bangun."

"Mm..." Hanya itu jawaban yang terdengar dari mulut Aya dengan badan yang tidak bergerak sama sekali. "Aya, ayo bangun..." kata ibu Aya sambil menggerak-gerakkan tubuh Aya. "Siram saja pakai satu ember air, bu. Pasti nanti Aya akan terbangun. Hihihi..." pekik Icil dalam hati sambil tertawa kecil. "Masih ngantuk, bu..." ucap Aya lirih dengan mata yang masih dalam keadaan tertutup. "Ayo, coba diingat. Aya sudah buat janji apa sama Icil?" "Mm...I..cil... Mm... Mm... Icil... Ada apa dengan si Icil..." gumamnya sambil merenggangkan badan. "Mm... Hah! Icil?! Icil, Bu? Dimana?" tiba-tiba matanya terbelalak dan langsung terbangun dari kasurnya. Tampak Icil tersenyum lebar dengan jahilnya. Aya langsung mengernyitkan dahi memandang ke arah Icil. Sambil tersenyum nakal ia berkata,"Aku tunggu di teras ya, Ya. Kamu cuci muka dulu." Ia keluar kamar Aya dengan tanpa membalikkan badan. Ada apa gerangan? Ternyata Icil telah berhasil menemukan kerikil dan ranting yang tadi digunakan untuk membangunkan Aya. Sesampainya di teras ia berlari ke halaman dan membuang bukti kejahilannya sambil bernapas lega. "Selamat..." gumamnya.

Tidak lama kemudian Aya keluar. "Ayo kita berangkat sekarang. Kita jadi mau bikin mobil-mobilan kan?" tanya Aya kepada Icil. "Mm. Nanti dulu ya. Aku mau numpang ke depan." "Ke depan?" tanya Aya keheranan. "Kita kan ada di depan," lanjutnya. "Bukan, bukan depan sini, tapi depan sana" tunjuk Icil ke arah dalam rumah Aya. "Maksudmu apa, Cil? Ke dalam? Mau apa ke dalam rumahku?" "Aduh... bukan itu maksud saya. Itu, mau ke depan..." kata Icil sambil bergoyang-goyang. "Ada apa sih Cil?" Aya masih tidak mengerti maksud Icil. "Aduh... udah enggak tahan nih..." Aya mengangkat alisnya. "Maksudmu, kamu mau ke belakang?"tanya Aya. Icil menjawab, "Kalau dari arahmu memang kakusnya ada di belakangmu, tapi dari arah aku kakus itu ada di depanku." "Tapi kan tetap saja istilahnya mau ke belakang, Icil." "Tapi posisi kakusnya kan ada di depanku, Aya." "Ya sudah, kalau begitu balik badanmu." Kata Aya sambil membalikkan badan Icil. "Sekarang posisi kakus ada di belakangmu. Berarti sekarang kamu mau numpang ke belakang, kan? Cepat ya, jangan lama-lama." Icil pun sambil setengah berlari masuk ke dalam rumah Aya. Aya hanya bisa menggeleng-geleng melihat tingkah Icil. "Icil-icil teman yang aneh..."

Tak berapa lama kemudian Icil kembali dengan wajah sumingrah ceria. "Ayo kita berangkat...". "Kita pergi kemana Cil!?" tanya Aya sambil menguap. Sepertinya Aya ingin kembali ke kamar dan tidur lagi. Icil dengan siggapnya menarik tangan Aya. "Ayo jangan malas-malasan gitu, kita keliling cari bahan untuk buat mobil-mobilan...Okeh"

Setelah berpamitan sama Ibu Icil, mereka berdua pergi. Mereka berjalan-jalan menyelusuri desa. Mencari bahan-bahan membuat mainan. Cuaca siang itu sangat panas. Membuat kedua sahabat itu kehausan. Akhirnya setelah berjalan sekian lama mereka istirahat sebentar dibawah pohon yang rindang ditepi sungai. "Kita istirahat dulu... Cil, Aku kehausan nich!" Mendengar itu si Icil mengiyakan! "Ya sudah kita istirahat sebentar" Sesekali mata Icil melihat-lihat sekeliling siapa tahu ada bahan untuk membuat mobil-mobilan. Tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah benda kotak berwarna hijau. "Hey coba lihat itu...". Tunjuk si Icil. "Apa..." sahut Aya keheranan. Sekejap kemudian si Icil berlari menuju benda itu. Ternyata benda itu adalah sebuah dompet. "Ini dompet....!!!" teriak Icil dari kejauhan. "Aku menemukan dompet!"

"Coba aku lihat..." minta Aya kepada Icil. Si Icil pun menyerahkan dompet itu. "Ada Duitnya, Cil!' bisik Aya. "Iya...iya...aku tahu". "Terus bagaimana ini..." tanya Aya penuh curiga. "Tidak ada identitasnya pula!"


Label:




©copyrighted 2008 Kancil Buaya